Bioluminesensi Laut

Authors

Sutrisno Anggoro, Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Diponegoro; Agus Indarjo, Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Diponegoro; Gazali Salim, Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Borneo Tarakan; Kun Retno Handayani, Ombudsman Republik Indonesia ; Julian Ransangan, Institut Penyelidikan Marin Borneo, Universiti Malaysia Sabah; Abdul Jabarsyah, Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Borneo Tarakan

Keywords:

Sea, Bioluminescence

Synopsis

Perairan laut adalah suatu ekosistem yang alamiah, unik, produktif, serta memiliki nilai ekonomi dan ekologi yang sangat tinggi. Perairan laut memiliki kawasan serta fungsi dari ekologisnya yang berupa berbagai jenis sumberdaya, penerima limbah dari daratan, menyediakan kebutuhan pokok manusia, serta jasa untuk kenyamanan. Bioluminesens atau “bioluminescence” (Bahasa Inggris) adalah suatu bentuk emisi (pancara) energi atau pendar cahaya hayati, yang disebabkan adanya perubahan proses kimiawi dengan melibatkan konversi energy kimia menjadi energy cahaya yang terdapat pada organisme tertentu (Lehninger, 1965). Menurut Harvey bioluminensensi merupakan organisme tertentu yang memiliki cahaya sebagai produksi cahaya yang berasal dari dalam tubuh organisme tersebut (biologis).

Author Biographies

Sutrisno Anggoro, Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Diponegoro

Sutrisno Anggoro dilahirkan di Klaten Provinsi Jawa Tengah. Penulis merupakan anak pertama dari enam bersaudara pasangan Bapak H. Palil Koesnoprawoto (alm) dan Ibu Hj Rr Soekati (Alm). Jenjang pendidikan penulis adalah SD Negeri Tarubasan Klaten (1999); SLTP Negeri  Karanganom Klaten, (lulus tahun 1968); SMA Negeri Jatinom Klaten (lulus tahun 1970);Jurusan Perikanan, Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro berafiliasi dengan Institut Pertanian Bogor (lulus tahun 1977). Pendidikan S2 dan S3 diperoleh di  Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam bidang Ilmu Perairan, lulus masing-masing pada tahun 1988 dan 1992 dengan predikat Cumlaude. Pendidikan tambahan dalam bidang Pengelolaan Sumberdaya Pesisir diperoleh dari SEARCA- UPLB Los Banos tahun 1986 dan Kagoshima University pada tahun 1996. Jabatan akademik selaku Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip dikukuhkan pada tahun 2001.

Agus Indarjo, Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Diponegoro

Penulis bernama lengkap Agus Indarjo dan istri bernama Dra. Triwiyanti Rahayu dengan di karuniai 2 (dua) anak bernama Paramita Indiyanti, SH., M.Kn dan Hikmia Rahadini Pradipta, SIP. Penulis dilahirkan di Sragen Propinsi Jawa Tengah dan merupakan anak dari pasangan Bapak Hadi Sunaryo (alm) dan Ibu Sumiyem (Alm). Penulis merupakan Dosen tetap ASN di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Semarang, Propinsi Jawa Tengah (1987)-sekarang. Jenjang pendidikan penulis adalah SD Negeri Ngampunan Sragen (1972); SLTP Negeri 2 Sragen (1975); SMA Negeri 1 Sragen (1979); Jurusan Perikanan, Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro Semarang (1985). Pendidikan Magister (S2) di Newcastle University Inggris (1995); Pendidkan Doktor (S3) Jurusan Manajemen Sumberdaya Pantai di Universitas Diponegoro Semarang (2012).

Gazali Salim, Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Borneo Tarakan

Penulis bernama lengkap Gazali Salim dan istri bernama lengkap Kun Retno Handayani (Ombudsman Republik Indonesia Cabang Semarang) dengan di karuniai 2 (dua) anak bernama Almeera Zaskia Gazali dan Arfa Fawwaz Gazali. Penulis merupakan Dosen tetap ASN PS. Manajemen Sumberdaya Perairan (2010), FPIK, Universitas Borneo Tarakan, Propinsi Kalimantan Utara-sekarang. Jenjang pendidikan penulis adalah SD AlIrsyad (1989); SLTP Negeri 3 Tegal, (1995); SMA Negeri 2 Tegal (1998); Pendidikan  S1 di Jurusan Ilmu Kelautan, FPIK, UNDIP (2006). Pendidikan S2 di Pascasarjana Program Studi Magister Manajemen Sumberdaya Pantai, UNDIP (2009) dengan predikat Cumlaude.

Kun Retno Handayani, Ombudsman Republik Indonesia

Kun Retno Handayani, S.H. Lulus S1 di Program Studi Ilmu Hukum, UNDARIS Ungaran tahun 2011. Menikah dengan Gazali Salim, S.Kel., M.Si tahun 2011 dan dikaruniai 2 (dua) anak bernama Almeera Zaskia Gazali dan Arfa Fawwaz Gazali. Penulis merupakan Asisten Ombudsman Republik Indonesia yang ditugaskan di Perwakilan Jawa Tengah (2019-Sekarang), sebelumnya penulis bertugas di Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Kalimantan Utara (2017-2019). Jenjang pendidikan Penulis adalah SD Negeri Teluk Pucung Asri 2 Bekasi (1991); SLTP Negeri  21 Bekasi, (1997); SMA Negeri 2 Bekasi (2000); Pendidikan D3 Manajemen Pertanahan Universitas Negeri Semarang (UNNES) (2006); Pendidikan S1 Ilmu Hukum Undaris Ungaran (2011). Kandidat Magister Ilmu Hukum Undaris Ungaran (2019).

Julian Ransangan, Institut Penyelidikan Marin Borneo, Universiti Malaysia Sabah

Julian Ransangan dilahirkan pada 18 Disember 1973 di Kota Marudu, Sabah, Malaysia. Beliau mendapat pendidikan awal Sekolah Rendah Kebangsaan Kota Marudu dari tahun 1980-1985. Beliau kemudiannya meneruskan Pendidikan peringkat menengah di Sekolah Menengah Kebangsaan Kota Marudu dari tahun 1986-1990. Beliau mendapat keputusan cemerlang dalam peperiksaan Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) dan melanjutkan pendidikan  peringkat menengah tinggi sains di Sekolah Kebangsaan Mat Saleh Ranau pada tahun 1991-1992. Dengan keputusan yang cemerlang dalam Peperiksaan Tinggi Persekolahan Malaysia (STPM), beliau melanjutkan Pendidikan peringkat sarjana muda dalam bidang Bioteknologi di Universiti Malaysia Sarawak pada tahun 1993. Beliau berjaya menamatkan pengajian peringkat sarjana muda sains dengan kepujian dalam bidang Bioteknologi pada tahun 1997. Selanjutnya, beliau menyambung pengajian peringkat Sarjana dalam bidang Biologi Marin di Universiti Malaysia Sabah (UMS) pada tahun 1999 dan memulakan kerjanya beliau sebagai seorang pensyarah di Institut Penyelidikan Marin Borneo pada tahun yang sama. Setelah 10 tahun berkhidmat sebagai pensyarah, beliau kemudian menyambung pendidikan peringkat Doktor Falsafah (PhD) beliau pada tahun 2006. Pada tahun 2009, beliau berjaya menamatkan pengajian doktor falsafah dan dianugerahkan ijazah doktor falsafah dalam bidang patologi dan penyakit ikan.  Setelah menamatkan pengajian doktor falsafah, beliau menyambung semula kerjaya beliau sebagai pensyarah di Institut Penyelidikan Marin Borneo, Universiti Malaysia Sabah (UMS) pada tahun 2009.

Abdul Jabarsyah, Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Borneo Tarakan

Penulis bernama lengkap Abdul Jabarsyah Ibrahim dan istri bernama Ir. Fadliyana Sedar dengan di karuniai 3 (tiga) anak bernama dr. Jifaldiaprian, M.S.Sp.Ot; Dr. Hafied Himawan dan Ashadi Ashar. Penulis dilahirkan di Tarakan Propinsi Kalimantan Utara dan merupakan anak dari pasangan Bapak Ibrahim Soelaiman (alm) dan Dayang A Rais (Alm). Jenjang pendidikan penulis adalah Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Indonesia (1983). Pendidikan Magister (S2) di Master dalam bidang ilmu Fisiologi Nutrisi  Graduate school of Fisheries Nagasaki University Japan (1995); Pendidkan Doktor (S3) Doctor dalam bidang ilmu Fisiologi Nutrisi, Graduate School Of Marine Science and Engineering Nagasaki University Japan (1999). Pelatihan International of Aquatic Environment Impact Assessment, Biotrops SEAMEO Bogor (1987). International Training of Radio Isotop, School of Madicine, Nagasaki University (1996). International Training of Electron Mocroscope, School of Madicine, Nagasaki University Japan (1996). Assesor Perguruan Tinggi (2006). Keanggotaan dalam Organisasi Profesional sebagai Japanese Society of Fisheries Scientist (JSFS); Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI); Ketua Dewan Penasehat KADIN Prop Kaltara; Ketua Dewan Penasehat Assosiasi Tenaga Ahli Indonesia Prop. Kaltara; Ketau Dewan Penasehat HKTI Prop Kaltara; Ketua Dewan Penasehat Persatuan Insinyur Indonesia Propinsi Kalimantan Utara.

References

Anderson, N.R. dan B.J Zahuranec (editor). 1977. Oceanic sound scattering prediction. Plenum, N.Y. 859 halaman.

Anderson, R. S. 1973. Chemical studies on bioluminescence of Marine Organism. Mar. Biol. Bull. 14: 92 - 111.

Anggoro, S dan Irwan Syadidul Anwar. 2009. Ekosistem Laut Dalam. Fakultas Pascasarjana Undip, Semarang.

Anggoro, S. dan Syadidul Anwar. 2010. Fenomena Bioluminesensi sebagai Basis Pengelolaan Wilayah Pesisir Teragitasi Pencemar Perairan.Program Magister Sumberdaya Pantai. FPS Undip. Semarang.

Baldwin, C.C., Johnson, G.D., & Paxton, J.R. 1997. Protoblepharon rosenblatti, a New Genus and Species of Flashlight Fish (Beryciformes: Anomalopidae) From the Tropical South Pacifis, Witf Comments on Anomalopid Phylogeny. Proc Biol Soc Wash 110 (3): 373-383.

Bassler BL. 2002. Small tTalk: cell-to-cell communication in bacteria. Journal Cell. 109: 421–424.

Baumann, P., A.L. Furnis., and J.V. Lee. 1984. Facultatively an aerobic gram negative rods, in Bargey’s manual of systematic bacteriology, N. R.Krieg (Ed), Williams & Wilkns, Baltimore, USA, vol. 1, p. 518-538.

Berg H.C. 2005. Swarming motility: it better be wet. curret biology. 15(15): 599600

Boddaert P. 1781. Beschrybung zweier merkwurdiger Fische (Sparus palpebratus und Muraena colubrina). Neue Nordische Beitrage (Pallas) 1781: 55-57.

Bolelli L, Ferri E.N, Girotti S. 2016. The management and exploitation of naturally light-emitting bacteria as a flexible analytical tool: A tutorial. Analytica Chimica Acta. 934: 22-35.

Braueur, R. (editor). 1972. Barobiology and the experimental biology of the deep sea. North Carolina Sea Grant Program, Univ. Of North Carolina, Chapel hill. 428 halaman.

Brock, T.D., and M.T. Mandigan. 1991. Biology of microorganisme (sixth ed), Prentice Hall International, Inc, p. 72-75 Brunn, A. 1957. Deep- sea abyssal depth. Bab 22 Hlm, 641 – 672.

dalam: Hedgpeth, J.E. (Editor) The treatise on marine ecology and paleoecology. Vol I, Ecology. Memoir 67. Geol soc. of America.

Campbell N.A, L. G., Mitchel, and J.B. Reece., (1994), Biology concept and connection., Third Edition, An Imprint of Addison Wesley Longman, Inc, p. 300- 701.

Carey, L.M, A. Roddriguez, and E. Meighen. 1984. Generation of fatty acids by an acyl esterase in the bioluminescence system of Photobacterium phosphoreum. J. Bio. Chem. 259 (16):10216-10221.

Carey, L.M, A. Roddriguez, and E. Meighen., (1984). Generation of fatty acids by an acyl esterase in the bioluminecescent system of Photobacterium phosphoreum, J, Bio, Chem. By Am, Soc, Bio chem, Inc, vol. 259, No. 16, p. 10216-10221.

Carter L.L Mc. 2004. Dual flagellar systems enable motility under di different circumstances. Journal Molecular Microbiology Biotechnology. 7:1 8–29

Claes, J.M., Ho, H.C., Mallefet, J. 2012. Control of Iluminescence from Pygmy Shark (Squaliolus aliae) photophores. J Exp Biol 208 (pt 10): 1691-1699.

Claes, J.M., Nilsson, D.E., Straube, N., Collin, S.P., Mallafet, J. 2014. Isoluminance Counterillumination Drove Bioluminescent Shark Radiation. Scientific Reports 4: 4328.

Colome J.S. 2001. Laboratory Exercises in Microbiology. New York (USA): West Publishing Company.

Colome, J. S., A. M, Kubinski, R. J, Cano, and D. V. Grady. 1986. Laboratory exercise in Microbiolgy, West Pub, Co., San Fransisco, p. 20-194.

Colome, J. S., A. M, Kubinski, R. J, Cano, and D. V. Grady., 1986. Laboratory exercise in Microbiolgy, West Pub, Co., San Fransisco, p. 20-194.

Costello, M.J. 2000. A Framework for an action on marine biodiversiry in ireland. Prepared for the marine institute.

Dahlgreen, U. 1928. The Bacterial Light Organ of Ceratias. Science 68 (1751):65-66.

David F. Gruber. 2006. Aglow in the Dark: The Revolutionary Science of Biofluorescence.Belknap Press. ISBN 978-0-674-01921-8.Hal. 11-21.

David W. Ow, Jeffrey R. De Wet, Donald R. Helinsky, Stephen H. Howell, Keith V. Wood, Marlene Deluca November .1986. “Transient and Stable Expression of the Firefly Luciferase Gene in Plant Cells and Transgenic Plants”.Science. 234. no. 4778, pp. 856 -859: 856– 859.doi:10.1126/science.234.4778.856.

Davies, M.P, Sparks, J.S, & Smith, W.L. 2016. Repeated and Widespread Evolution of bioluminescence in mArine Fishes. PLOS ONE11 (6):e0155154.

Davis, B.D., R. Dulbecco, H.N. Eise and H.S. Ginsberg. 1980. Microbiology,Including Immunology and Molecular Genetics, 3th ediotion, Harper and Row, Publishers, Philadelphia, p. 127-523.

Davis, R.A. 2000. The Oceanography: An introduction to the marine environment, Wm. C. Brown Publ., Iowa. 431 pp.

Denton, E.J., Herring, P.J, Widder, E.A., Latz, M.F., & Case, J.F. 1985. The Roles of Filters in the Photophores of Oceanic Animals and Their Relation to Vision in the Oceanic Environment. Proceedings of the Royal Society B, Biological Sciences 225: 63-97.

Dewi, K., Pringgenies, D., Haeruddin, & Muchlissin, S. I. 2018. Fenomena Bioluminesensi Ikan Lomek (Harpodon nehereus) Berasal dari Bakteri Luminesen.

Dikmen, Z. G. Gellert, G. Dogan, P. Mason, R. Antich, P. Richer, E. Wright, W. E. Shay, J. W.2005. “A New Diagnostic System in Cancer Research: Bioluminescent Imaging(BLI)”. Turk J Med Sci 35: 65 – 70.

Dunlap P.V. 2009. Encyclopedia of Microbiology Bioluminescence, Microbial: Physiology. Elsevier Inc. University of Michigan, Ann Arbor.

Dunlap, P.V., & Nakamura, M. 2011. Functional Morphology of the Luminescence System of Siphamia Coral Reef Fish . Journal of Morphology 272 (8):897-909.

Dunlap, P.V., Gould, A.L., Wittenrich, M.L., & Nakamura, M. 2012. Symbiosis Initiation in the Bacterially Luminous Sea Urchin Cardinal Fish Siphamia Versicolor. J Fish Biol 81 (4): 1340-1356.

Edward A. Meighen. Maret 1991. “Molecular Biology of Bacteria lBioluminescence”. Microbiological review 55 (1): 123 – 142.

Frank T.M, Widder EA, Latz MI, Case JF. 1984. “Dietary maintenance of bioluminescence indeep-sea mysid”. J. Exp. Biol 109: 385 – 389.

Frye,M.,1999,Bioluminesence,http://monster.educ.kent.edu/~compclub/i.798protists/bio2nd/bioluminescence.html

G. Bundy, J.L. Wardell, C.D. Campbell, K. Killham, G.I. Paton. 1997.“Application of bioluminescence based microbial biosensors to the ecotoxicity assessment oforganotins”. Letters in Applied Microbiology 25: 353 – 358.

Goto, T, I. Kubota, N. Suzuki and Y. Keshi. 1973. Aspect of the mechanism of bioluminescence, p: 325-336. In M. J. Cormier et, al. (eds) Chemiluminescence and Bioluminescence. Plenum Press, New York.

Haddock S.H.D, Moline M.A, Case J.F. 2010. Bioluminescence in the sea.Annual Review of Marine Science. 2: 443–493.

Haneda Y. 1950. Harpodon nehereus, a non-luminous fish. Pacific Science Journal. 4: 135-138.

Haneda, Y., & Tsuji, F.I. 1971. Light Production in the Luminous Fishes Photoblepharon and Anomalops From the banda Islands. Science 173 (3992): 143-145.

Hardy, A. 1965. The open sea. Vol I, The world of plankton; Bab 12, Life in the depths. Houghton Mifflin, N.Y. 385 halaman.

Harvey, E. N. 1976. Studies on marine bioluminescence. J. Mar. Biol. Ann. Rev., 51: 72 - 83.

Hasting, J.W. and J.G. Morin. 1989. Bioluminescence, in Neural and Integrative Animal Physiology, C. Ladd. Prosser, Editor, Wiley-Liss, New York, p. 131-168

Hastings, J.W. & Morin, J.G. 1991. Bioluminescence in neural and integrative animal physiology. Prosser.C.L. ed. Wiley-interscience. New York, p. 99-104.

Haygood, M.G., & Distel, D.L. 1993. Bioluminescence Symbionts of Flashlight Fishes and Deep-sea Anglerfishes Form Unique Lineages Related to Genus Vibrio. Nature 363 (6425): 154-156.

Haygood, M.G., & Prince, R.C. 1993. Light Organ Symbiosis In Fishes. Crit Rev Microbiol 19 (4): 191-216.

Haygood, M.G., Tebo, M.B., & Nealson, K.H. 1984.Luminous Bacteria of a Monocentrid Fish (Monocentris japonicus) and Two Anomalopid Fishes (Photoblepharon palpebratus and Kryptophanaron alfredi): Population sizes and Growth Within the Light Organs, and Rates of Release into the Seawater. Marine Biology 78 (3): 249-254.

Heezin, B.C., dan C.D. Hollister. 1971. The face of the deep sea. Oxford Univ. Press, N.Y. 659 halaman.

Hellinger J, JaÈgers P, Donner M, Sutt F, Mark MD, Senen B, Tollrian R, Herlitze S. 2017. the flashlight fish Aanomalops katoptron uses bioluminescent light to detect prey in the dark. Plos OneLoS ONE.12(2): 1-18.

Hellinger, J., Jagers, P., Donner, M., Sutt, F., Mark, M.D., & Senen, B. 2017. The Flaslight Fish Anomalops katoptron Uses Bioluminescent Light to Detect Prey in the dark. PloS ONE12: e0170489.

Hendry, T.A., & Dunlap, P.V. 2011. The Uncultured Luminous Symbiont of Anomalops katoptron (Beryciformes: Anomalopidae) Represents a new Bacterial Genus. Mol Phylogenet Evol 61 (3): 834-843.

Hendry, T.A., & Dunlap, P.V. 2014. Phylogenetic Divergence Between the Obligate Luminous Symbionts of Flashlight Fishes Demonstrates Specificity of Bacteria ti Host Genera. Environ Microbiol Rep 6(4): 331338.

Herring P.J, Widder EA. 2001. Bioluminescence. Di dalam: Steele J, Thorpe S,

Turekian K (editor) 1st Eedition of Encyclopedia of Ocean Sciences.1: 308–317. Elsevier Ltd. United States: Academic Press, Elsevier Ltd.

Herring, P.J. 1977. Luminescence in cephalopods and fish, Symp, Zool, Soc, London. 38:127-159.

Herring, P.J., Cope, C. 2005. Red Bioluminescence in Fishes: On the Suborbital Photophores of Malacosteus, Pachystomias and Aristostomias. Marine Biology 148(2): 383-394.

Ho, H.C., & Johnson, G.D. 2012. Protoblepharon mccoskeri, a New Falshlight Fish From Eastern Taiwan (Teleostei: Anomalopidae). Zootaxa 3479: 77-87.

Hourdry, Jacques. 1995. Fish and Cydostome Migrations Between Fresh Water and Sea Water: Osmoregulatory Modifications, Italian Journal of Zoology.62: 2.97—108.

Humes, A.G. 1994. How many copepods? Hydrobiologia, 292/293: 1-7.

Jamal Al-Nasir, Divine.Islam.com, 2002. Qur’an Viewer versi 2.9, Khasanah Ayat Kauniyah. Al Azhar, Jakarta.

John G. Burr (1985). Chemi- and bioluminescence.CRC Press. ISBN 978-0-8247-7277- 2.Hal.321-323;331-332James B. Wood, Kim Zeeh. Marine Animal Bioluminescence: A host of simple a

Johnson, G.D., Rosenblatt, R.H. 1988. Mechanisms of Light Organ Occlusion in Flashlight Fishes, Family Anomalopidae (Teleostei: Beryciformes) and the Evolution of the Group. Zoological Journal of Linnean Society 94 (1): 65-96.

Johnson, G.D., Seeto, J., & Rosenblatt, R.H. 2001. Parmops echinatus, a New Species of Flashlight Fish (Beryciformes: Anomalopidae) From Fiji. Proc Biol Soc Wash 114:497-500

Kakatkar A, Sharma A, Venugopal V. 2003. Hydration of muscle proteins of bombay duck (Harpodon nehereus) during acetic acid-induced gelation and characteristics of the gel dispersion. Food Chemistry. 83: 99–106.

Keiko Gomi, Naoki Kajiyama‡ (Juli 2001). “Oxyluciferin, a Luminescence Product of Firefly Luciferase, Is Enzymatically Regenerated into Luciferin”. Journal of Biological Chemistry 276: 36508–36513. doi:10.1074/jbc.M105528200.

Kishitani, T., (1928). Preliminary report on the luminous symbiosis in Sepiola birostrata SASAKI. Proceeding of the Imperial Academy. Japan, vol. 4, p. 393- 396.

Koesoebiono. 1992. Ekologi dan Produktivitas Ekosistem Laut. Pusat Studi Lingkungan, IPB, Bogor.

Kronstrom, J., Holmgren, S., Baguet, F., Salpietro, L., & Mallefet, J. 2005. Nitric oxide in Control of Luminescence From Hachetcfish (Argyropelecus hemigymnus) photophores. J Exp Biol 208 (pt 15): 2951-2961.

Lagler, K.Z., J.E. Bardach, R.R. Miller, D.R. May Passino. 1977. Ichthyology. John Wiley & Sons. New York.

Lambert, N. 1996. “Firefly luciferase can use L-luciferin to produce light”. Biochem. J. 317: 273 – 277.

Lee, J., D. M. Hercules and M. J. Cormier. 1973. Mechanism of chemilumin escence and bioluminescence, p: 1-6. In M. J. Cormier et, al.(eds). Chemiluminescence and bioluminescence. Plenum Press, New York.

Leech, D.M., C.E. Williamson, R.E. Moeller, & B.R. Hargreaves. 2005. Effects of ultraviolet radiation on the seasonal vertical distribution of zooplankton: a database analysis. Arch. Hydrobiol., 162: 445-464.

Liu, S.H., S. Sun, & B.P. Han. 2003. Dial vertical migration of zooplankton following optimal food intake under predation. J. Plankton Res. 25: 1,069-1,077.

Losick, R., and Kaiser, D. 1997. Why and how bacteria communication, Scientific American, 276:68-73.

M. W. Griffiths. 1993. “Applications of Bioluminescence in the Dairy Industry”. J Dairy Sci 76:3118–3125.

MacDonald, A.G. 1975. Physiological aspects of deep sea biology. Cambridge Unifv Pres. 450 halaman.

Madden, D., and B.M Lidesten. 2001. Bacterial illumination, culturing luminous bacteria, Bioscience Explained. 1 (1): 18.

Marshall, N.B. 1954. Aspects of deep-sea biology. Philosophical Library, N.Y. 380 halaman

Marshall, N.B. 1980. Deep sea biology: Developments and perspectives. Garland STPM Press. N.Y. 566 halaman.

Mauchline, J. 1977. The biology of bathypelagic organisms, especially crustacea. Deep sea Res. 19 ; 753–780.

McCosker, J.E. 1977. Flashlight Fishes. Sci Am 236(3): 106-112.

McFall, N.J.M., & Dunlap, P.V. 1983. Three New Modes Of Luminescence in the Leiognathid Fish Gazza Minuta: discrete Projected Luminescence, ventral Body Fish, and Buccal Luminescence. Marine Biology 73 (3):227-237.

Meissener, G. 1926. Bakteriologische untersuchungen über die symbiotischen lauchtbakterien von Sepien aus dem Golf von Neapel, Zbl, Bakt, vol. 2, No. 67, p. 194-238.

Menzies, R.J., R.Y. george dan G.T. Rowe. 1973. The abyssal environment and ecology of the world oceans. Wiley, N.Y. 488 halaman.

Mesinger A.F., Case, J. F. 1990. Luminescent Properties of deep Sea Fish, J Exp Mar Biol Ecol 144(1): 1-15.

Morin, J.G., Harrington, A., Nealson, K., Krieger, N., & Baldwin, T.O. 1975. Light for All Reason: Versatility in the Behavioural Repertoire of the Flashlight Fish, Science 190 (4209): 74-76.

Mortara, S., (1922). Ė accettaile la teoria simbiotica de ll fotogenesi animale?, Rivista, Biol, vol. 4,p. 1-2.

Mortara, S., (1924). Sulla biofotogenesi e su alcuni batteri fotogeni,Rivista, Biol, vol. 6, p. 323-342.

Munk, O. 1999. The Escal Photophore of Ceratioids (Pisces; Ceratioidei)-a Review of Structure and Function. Acta Zool Stockholm 80 (4):265-284.

Narayanan, K. 2003. A review on Luciferase and its applications, p. 1-17.

Nesis, K. N. 1982. Cephalopods of the world squids, Squids, Cuttlefishes,Octopuses and Allies, Moscow, p. 29-35.

Norris, J.R., and D.W. Ribbons. 1971. Methods in microbiology. Acad. Press, London.

Nugraha, M. F. I., & Sumiarsa, G, S. 2009. Spesies Asing sebagai Salah Satu Pembatas dalam Budidaya copepoda pada Bak Terkontrol.

Nugroho E.D, Ibrahim, Rahayu DA. 2014. Variasi morfologi dan kekerabatan ikan nomei perairan kalimantan sebagai upaya konservasi ikan laut lokal di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional XI Pendidikan Biologi FKIP UNS. 11(1): 505-511.

Nugroho, Rahayu D.A. 2015. Status taksonomi ikan nomei dari perairan tarakan, Kalimantan Utara berdasarkan gen 16S rRNA sebagai upaya konservasi ikan laut lokal Indonesia. Jurnal Harpodon Borneo. 8(2): 132-141.

Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut: Suatu pendekatan Ekologis.Gramedia. Jakarta. 480 halaman.

Nybakken, J.W., 1992. (Terjemahan: H.M. Eidman et al) Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Ocean Research Institute, University of Tokyo. 2008. Searching for new Hormones that Governn Adaptation to Hypertonic marine Environtment in Teleost Fish. Diunduh dari http://www.ori.u-tokyo.ac.jp/report/e/topics10.html.

Omori, M. 1974. The biology of pelagic Shrimp in the ocean. Adv. Maret. Biol. 12: 233 -324.

Paitio J, Oba Y, Rochow VBM. 2016. Bioluminescent fishes and their eyes: luminescence - an outlook on the phenomena and their applications.Intechopen. www.intechopen.com

Pearcy W.G & Brodeur R.D. 2009. Reference Module in Earth Systems and Environmental Sciences Encyclopedia of Ocean Sciences. 2nd ed. Academic press. United States.

Pierantoni, U. 1918. Organi luminosi, organi simbioticie glandola nidamentale accessori nei cefalopodi, Napoli, Boll, Soc, Nat, vol. 30, p. 30-36.

Pierantoni, U. 1924. Nuove osservazioni su luminescenza e simbiosi, III, Organo luminoso di Heteroteuthis dispar, R. C. Acad, Lincei (Ser. 5) vol. 33, p 61-65.

Pringgenies D, Sejati S. 2004. Isolasi dan determinasi bakteri luminesensi yang bersimbiosis pada cumi-cumi loligo duvauceli. Jurnal Ilmu Kelautan. 9(1): 26-30.

Pringgenies, D. 2012. Fenomena Bioluminesensi Cumi-cumi (Loligo duvauceli) Berasal dari Bakteri Simbion

Pringgenis, D., & Sejati, S. 2004. Isolasi dan determinasi bakteri Luminensi yang Bersimbiosis pada Cumi-cumi Loligo duvauceli

Raphaël De Cock, Erik Matthysen (November 1999). “Aposematism and bioluminescence:Experimental evidence from Glow-worm Larvae(Coleoptera:Lampyridae)”. Evolutionary Ecology 13: 619 – 639.doi:10.1023/A:1011090017949.

Ratnawulan, Pringgenis, D., & Arif, I. 2005. Isolasi dan identifikasi Bahan Aktif Penyebab Pemancaran Cahaya Pada Bakteri Photobacterium phosphoreum yang Diisolasi dari cumi Laut Jepara Indonesia.

Rosenblatt, R.H., & Johnson, G.D. 1991. Parmops coruscans, a new genus and Species of Flashlight Fish (Beryciformes: Anomalopidae) From the South Pacific. Proc Biol Soc Wash 104 (2): 328-334.

Rosenblatt, R.H., & Montgomery, W.L. 1976. Kryptophaneron harveyi, a New Anomalopid Fish From the Eastern Tropical Pacific, and the Evolution of the Anomalopidae. Copeia 1976 (3): 510-515.

Ruby, E.D. 1996. Lessons from a cooperative, bacterialanimal association: The Vibrio fischery- Euprymna

Ruby, E.D., (1996). Lessons from a cooperatove, bacterial – animal association: The Vibrio fischery- Euprymna scolopes light organ symbiosis, J. Annu. Rev. Microbiol. vol. 50, p. 591-624.

Sasaki S, Okamoto T, Fujii T. 2009. Bioluminescence intensity difference observed in luminous bacteria groups with different motility. Letters in Applied Microbiology. 48:313–317.

Schrope M. 2007. Lights in the Deep. Nature. 450: 472-474.

scolopes light organ symbiosis. J. Annu. Rev. Microbiol. 50:591-624.

Shilo M, Yetinson T.1979. Physiological characteristics underlying the distribution patterns of luminous bacteria in the Mediterranean Sea and the Gulf of Elat. Applied and Environmental Microbiology. 38: 577-584.

Shimomura O. 2006. Bioluminescence: Chemical Principles and Methods. Singapore (SG): World Scientific Publishing.

Shimomura, O., and F. H. Johnson. 1973. Mechanism of luminescent oxidation of Cypridina Luciferin, p: 337 - 344. In M. J. Cormier et, al. (eds). Chemiluminescence and biouminescence. Plenum Press, New York.

Side D.D, Giuffreda E, Tredici SM, Talà A, Pennetta C, Alifano P. 2015. Quorum sensing: Complexity in the bacterial world. Chaos, Solitons and Fractals. 81:551–555.Volk WA, Wheeler MF. 1993. Mikrobiologi Dasar. Vol.V. Jakarta (ID): Erlangga.

Silvester, C.F., & Fowler, H.W. 1926. A New Genus and Species of Phosphorescent Fish, Kryptophanaron alfredi. Proc Acad Nat Sci Philadelphia 78 (1926): 245-247.

Soedarmo, D dan Anggoro, S. 1991. Fenomena Bioluminesensi: indikator hayati untuk pengelolaan pesisir dan laut. Sekolah Pascasarjana - Departemen Biokimia IPB, Bogor.

Steche, O. 1909. Die Leuchtorgane von Anomalops Katoptron und Photoblepharom palbebratus. Zwei Oberflachenfischen aus dem Malaiischen Archipel. Ein Beitrag zur Morphologie und Physiologie der Leuchtorgane der Fische. Z Wiss Zool 93: 349-408.

Steven H.D. Haddock, Mark A. Moline, James F. Case (Januari 2010). “Bioluminescence in theSea”. Annual Review of Marine Science 2: 443– 467. doi:10.1146/annurev-marine- 120308-081028.

Szittner, R. & Meighen, E. 1990. Nucleotide sequenceexpression and properties of luciferase coded by lux genes from a teresterial bacterium. J. Biol. Chem., 265: 16,581-16,587.

Tett, P.B., and M.G. Kelly. 1973. Marine bioluminescence. Oceanog. Mar. Biol. 2: 89-173.

Todd J. Underwood, Douglas W. Tallamy, John D. Pesek (Mei 1997). “Bioluminescence infirefly larvae: A test of the aposematic display hypothesis (Coleoptera:Lampyridae)”.Journal of Insect Behavior 10:365– 370.doi:10.1007/BF02765604.

V.A. Kratasyuk., E.N. Asimbekova., E.V. Vetrova. 2004. 13th International Symposium on Bioluminescence & Chemiluminescence Symposium Abstract.

Watanabe, T., C. Kitajima, & S. Fujita. 1983. Nutritional values of live organisms used in Japan for mass propagation of fish: a review. Aquaculture, 34: 115-143.

Werbiewe., F. L., G.E. Holt., B.W. Scaron. 1970. Physics, A Basic Science, 5th edition, Am, Book, Comp, p. 357.

Werbiewe., F. L., G.E. Holt., B.W. Scaron., (1970). Physics, A Basic Science, Fifth edition, Am, Book, Comp, p. 35

Widder EA (1998). “A predatory use of counterillumniation by the squaloidshark, Isistius brasiliensis”. Environmental Biology of Fishes 53 53: 267– 273.

Widder, E.A. 1998. A Predatory Use of Counterillumination by the Squaloid Shark, Isistius Brasiliensis. Environmental Biology of Fishes 53: 267273.

Widder, E.A. 2010. Bioluminenscence in the Ocean: Origins of Biological, Chmeical and Ecological Diversity. Science 328: 704-708.

Williamson, C.E & J.W. Reid. 2001. Copepoda ecology and classification of north American freshwater Invertebrates. 2nd Edition. Academic Press. p. 915-954

Wilson K., Yu J., Lee A., Wu J.C. (2008). In vitro and in vivo Bioluminescence Reporter GeneImaging of Human Embryonic Stem Cells. JoVE.14.http://www.jove.com/index/Details.stp?ID=740, doi:10.3791/740.

Wilson, T., Hastings, J.W. 2013. Bioluminescence Living Lights, Lights for Living, Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts, London, England, pp.12

Witt, U., G. Quantz, D. Kuhlmann, & G. Kattner. 1984. Survival and growth of turbot larvae Scophthalmus maximus L. reared on different food organisms with special regard to long-chain polyunsaturated fatty acids.Aquacultural Engineering, 3: 177-190.

Young, R.E. 1975. Funciton of the dimorphic eyes in the midwater squid, Histioteuthis dofleini. Pac. Sci. 29 (2) : 211 – 218.

Published

April 23, 2021

Details about the available publication format: E-Book (Free Selected Page)

E-Book (Free Selected Page)

doi

10.52574/syiahkualauniversitypress.216.116
Themes by Openjournaltheme.com

How to cite