Intip 5 Trio Terganas Sepanjang Sejarah Piala Dunia, Skuad Spanyol dan Argentina Siap Meniru?

Trio Legendaris dalam Sejarah Piala Dunia Trio Legendaris dalam Sejarah Piala Dunia

Hitung mundur Piala Dunia 2026 tinggal menyisakan tiga hari lagi sebelum peluit sepak mula resmi dibunyikan. Menjelang turnamen paling bergengsi di bumi ini, stasiun televisi TVRI baru saja merilis ulasan menarik mengenai deretan trio lini depan paling legendaris yang pernah mendominasi sejarah Piala Dunia.

Tren mematikan lewat kombinasi tiga pemain di lini serang ini sebenarnya masih segar di ingatan kita. Pada edisi 2022 kemarin, Argentina sukses keluar sebagai kampiun berkat kegacoran trio Lionel Messi, Angel Di Maria, dan Julian Alvarez.

Mundur sedikit ke edisi 2018, Prancis juga berhasil naik takhta berkat sokongan tiga pemain kreatif, yaitu Kylian Mbappe, Antoine Griezmann, dan Blaise Matuidi yang bergerak bebas di belakang striker utama, Olivier Giroud.

Menariknya, jelang edisi 2026 ini, beberapa tim kontestan sedang mencoba meramu kembali formula magis tersebut. Argentina harus memutar otak mencari suksesor Angel Di Maria yang sudah resmi gantung sepatu dari tim nasional.

Sementara itu, Timnas Spanyol berharap bisa memainkan trio maut mereka di mana Lamine Yamal dan Nico Williams kini sedang dikejar waktu agar bisa fit 100 persen. Pelatih Luis de la Fuente kabarnya menyiapkan nama Borja Iglesias atau Ferran Torres untuk melengkapi pos ujung tombak La Roja.

Sambil menunggu siapa trio tersangar di turnamen kali ini, yuk kita nostalgia dulu dengan 5 trio legendaris yang pernah bikin lini pertahanan lawan kena mental:

1. Pele, Jairzinho, dan Tostao (Brasil 1970)

Kombinasi ini sering disebut-sebut sebagai kesatuan lini serang terhebat sepanjang masa. Pada edisi 1970, ketiganya mengacak-acak pertahanan lawan dengan gaya Samba yang indah di bawah asuhan pelatih Mario Zagallo.

Jairzinho mencatatkan rekor gila dengan selalu mencetak gol di setiap pertandingan (total 7 gol, 1 asis). Tostao bertindak sebagai pelayan lewat umpan briliannya (2 gol, 4 asis), dan Pele menjadi otak permainan (4 gol, 6 asis). Total, trio ini berkontribusi dalam 24 gol Brasil! Menariknya, nama pemain sayap kiri berkumis tebal, Rivellino (3 gol, 3 asis), juga sangat layak masuk dalam kombinasi maut ini.

2. Johan Cruyff, Rob Rensenbrink, Johnny Rep (Belanda 1974)

Meskipun Timnas Belanda belum pernah mencicipi trofi juara, trio maestro dari era Total Football ini sukses membawa De Oranje menembus final edisi 1974 dan 1978. Mereka menyajikan permainan sepak bola paling indah sekaligus mematikan.

Nama Rensenbrink (salah satu sayap kiri terbaik) dan Johnny Rep mungkin sering tenggelam di bawah bayang-bayang kebesaran Johan Cruyff, namun peran mereka sangat krusial. Pada edisi 1974, Cruyff membukukan 3 gol dan 5 asis, Rep mengoleksi 4 gol dan 1 asis, sementara Rensenbrink menyumbang 1 gol dan 1 asis saat melumat Jerman Timur 2-0.

3. Diego Maradona, Jorge Valdano, Jorge Burruchaga (Argentina 1986)

Puncak kebersamaan trio maut Argentina ini meledak di partai final edisi 1986 kontra Jerman. Ketiganya menjadi aktor utama dari lahirnya tiga gol kemenangan Tim Tango yang berakhir dengan skor 3-2.

Burruchaga memberikan asis untuk gol pertama dari Jose Luis Brown, lalu Valdano mencetak gol kedua memanfaatkan umpan Hector Enrique. Saat skor imbang 2-2, Maradona melepaskan asis jenius yang diselesaikan dengan dingin oleh Burruchaga untuk mengunci gelar juara. Sepanjang turnamen, Maradona tampil kesurupan dengan torehan 5 gol dan 5 asis, disusul Valdano (4 gol, 1 asis) dan Burruchaga (2 gol, 2 asis).

4. Lothar Matthaus, Rudi Voller, Jurgen Klinsmann (Jerman 1990)

Secara teknis ini bukan trio lini depan murni, melainkan sebuah segitiga (triangle) lini tengah dan depan yang sangat mematikan. Pelatih Franz Beckenbauer dengan cerdik menempatkan Lothar Matthaus, gelandang jenius dengan kemampuan adaptasi tinggi, tepat di belakang duet striker maut Jurgen Klinsmann dan Rudi Voller.

Strategi ini terbukti ampuh membawa Jerman Barat merengkuh trofi juara di Italia. Matthaus menjadi motor serangan sekaligus top skor tim dengan 4 gol, sementara duet Klinsmann (3 gol, 2 asis) dan Voller (3 gol, 1 asis) sukses membuat bek lawan kocar-kacir.

5. Ronaldo, Rivaldo, dan Ronaldinho (Brasil 2002)

Dunia sepak bola mengenalnya dengan sebutan trio “3R”. Ini adalah kombinasi dengan kemampuan individu tertinggi yang pernah ada dalam sejarah sepak bola modern saat mentas di Korea-Jepang.

Ronaldo Nazario membawa kecepatan, fisik monster, dan penyelesaian akhir mematikan yang membuahkan Sepatu Emas (termasuk 2 gol di final lawan Jerman). Rivaldo menjadi dirigen permainan yang tenang dengan visi luar biasa (5 gol), sementara Ronaldinho (2 gol, 3 asis) menghibur dunia lewat gocekan magis dan teknik individunya yang tinggi.