Rangkaian pembukaan Piala Dunia 2026 antara Timnas Meksiko melawan Timnas Afrika Selatan di Mexico City Stadium pada Kamis (11/06) waktu setempat dinilai sepi dan minim gegap gempita. Turnamen edisi terbesar yang diikuti 48 tim di tiga negara ini kehilangan atmosfer otentiknya akibat kendala logistik global serta rentetan isu domestik di Indonesia yang mengalihkan perhatian publik.
Hambatan Visa dan Tingginya Biaya
Analis industri sepak bola menyebutkan beberapa faktor global yang meredam gairah turnamen ini. Masalah akses masuk ke negara tuan rumah menjadi sorotan tajam setelah banyak suporter dari negara berkembang mengalami penolakan visa. Selain prosedur ketat, biaya pengurusan visa sebesar 205 dolar AS dinilai sangat memberatkan.
Lonjakan biaya tiket akibat sistem harga dinamis (dynamic pricing) serta mahalnya akomodasi lintas negara membuat pencinta bola enggan datang langsung. Jarak antar-stadion yang sangat berjauhan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko turut membengkakkan biaya mobilisasi suporter.
Ditambah lagi, regulasi komersial FIFA yang ketat melarang penggunaan istilah “World Cup” untuk promosi independen, sehingga membatasi pelaku usaha lokal menggelar acara nonton bareng secara legal. Format baru 48 tim juga menuai kritik karena jumlah laga yang terlalu banyak dianggap menurunkan kadar prestisius kompetisi.
Dampak Isu Domestik di Indonesia
Di tingkat domestik, perhatian pencinta sepak bola di Indonesia pecah akibat berbagai persoalan dalam negeri. Isu-isu ekonomi dan politik seperti maraknya kasus korupsi, polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi secara tiba-tiba membuat masyarakat lebih fokus pada kondisi finansial mereka sendiri ketimbang turnamen olahraga global.
Kondisi ini diperparah oleh kurang gencarnya promosi Piala Dunia 2026 di tanah air, meskipun hak siar resmi untuk penayangan gratis dipegang oleh TVRI. Pola konsumsi masyarakat yang kini beralih ke platform streaming berbayar seperti Fola Play dan MAXstream juga memecah konsentrasi pemirsa layar kaca.
Selain itu, perubahan perilaku penonton modern yang lebih menyukai tayangan ringkasan pertandingan (highlight) di media sosial ketimbang menyaksikan laga penuh selama 90 menit turut menggerus antusiasme siaran langsung.
Proyeksi Pendapatan Komersial FIFA
Meskipun dihujani kritik mengenai hilangnya atmosfer otentik sepak bola dan ramainya keluhan di platform digital seperti X, pihak FIFA tetap menyatakan optimismenya. Federasi sepak bola dunia tersebut memproyeksikan turnamen yang dibuka di Stadion Azteca dan ditutup di MetLife Stadium ini tetap akan mencetak rekor sukses besar dari sektor pendapatan dan hak siar global.
Namun, kelesuan atmosfer ini tetap memicu sindiran tajam dari berbagai media dan pengamat sepak bola lokal terkait prioritas tontonan masyarakat saat ini. “Kenapa Piala Dunia 2026 kali ini sepi, kalah dengan drama rumah tangga Sarwendah,” kata Starting Eleven.