Jakarta – Hitung mundur menuju Piala Dunia 2026 sudah makin dekat, nih! Meski peluit sepak mula belum dibunyikan, atmosfer panas turnamen sepak bola terbesar di bumi ini sudah mulai terasa lewat perang prediksi.
Menariknya, para lembaga analisis dan pengamat dunia justru pecah kongsi dalam menentukan prediksi juara piala dunia 2026. Hasil ramalan menunjukkan perbedaan yang jomplang banget antara pendekatan teori ekonomi dan simulasi statistik modern.
Belanda Juara Lewat Jalur PDB
Salah satu prediksi yang paling memicu perdebatan datang dari Joachim Klement, seorang ekonom olahraga terkemuka. Alih-alih melihat performa di lapangan hijau, Klement menggunakan model analisis berbasis faktor sosial-ekonomi.
Hasilnya? Timnas Belanda keluar sebagai kandidat terkuat untuk mengangkat trofi emas kali ini.
Model unik ini sama sekali gak menilai kualitas starting XI atau seberapa gacor performa terkini sebuah tim nasional. Klement justru mengukur potensi kesuksesan sepak bola suatu negara lewat indikator struktural, mulai dari jumlah populasi, kondisi iklim, sampai kekuatan ekonomi yang tercermin dalam Produk Domestik Bruto (PDB).
Pendekatan ini sebenarnya punya rekam jejak yang lumayan oke di beberapa turnamen besar sebelumnya. Logikanya, negara dengan PDB tinggi punya modal besar untuk berinvestasi di akademi pemain, fasilitas modern, teknologi sport science, hingga sistem pembinaan jangka panjang. Jadi, wajar kalau skuad De Oranje diunggulkan lewat jalur ini.
Superkomputer Opta Pilih La Roja
Nah, kalau kamu kurang sreg dengan teori ekonomi, prediksi berbasis kecerdasan data dan simulasi pertandingan punya jawaban yang berbeda 180 derajat. Superkomputer milik Opta Analyst justru menempatkan Spanyol sebagai favorit utama untuk menjadi juara dunia.
Berdasarkan ribuan simulasi yang dijalankan hingga Senin, 1 Juni kemarin, tim berjuluk La Roja tersebut memiliki peluang juara sebesar 16,1 persen. Angka ini menjadi yang tertinggi dibandingkan seluruh kontestan turnamen lainnya.
Tepat di bawah Spanyol, Prancis menguntit di posisi kedua dengan peluang juara 13 persen. Sementara itu, posisi ketiga dihuni oleh Inggris dengan 11,2 persen, disusul oleh sang juara bertahan Argentina yang harus puas di urutan keempat dengan peluang 10,4 persen untuk mempertahankan gelarnya.
Maroko Tetap Jadi Kuda Hitam Mengancam
Bagaimana dengan tim-tim raksasa lainnya? Brasil nangkring di posisi kelima dengan peluang 6,6 persen, sedangkan Jerman harus rela terlempar di peringkat ketujuh dengan 5,1 persen.
Sementara Belanda, yang jadi anak emas dalam model ekonomi Joachim Klement, hanya masuk dalam kelompok kandidat kuat bersama Norwegia, Belgia, dan Kolombia versi data Opta.
Di sisi lain, Opta juga menyoroti potensi Maroko sebagai salah satu tim kuda hitam yang siap memberikan rapor merah bagi tim besar. Wakil Afrika Utara tersebut diperkirakan memiliki peluang juara sebesar 1,9 persen setelah menunjukkan performa konsisten dalam beberapa turnamen internasional terakhir. Nasib kurang beruntung justru menimpa Amerika Serikat; berstatus sebagai salah satu tuan rumah, mereka hanya diberi peluang 1,2 persen saja untuk juara.
Tak cuma menebak juara, simulasi superkomputer ini juga menghitung peluang tim lolos ke fase gugur. Spanyol lagi-lagi mendominasi seluruh kategori dengan peluang mencapai partai puncak sebesar 25,6 persen.
Namun perlu diingat, baik hitung-hitungan ekonomi maupun algoritma superkomputer tidak pernah bisa menjamin hasil akhir di atas lapangan. Sejarah panjang Piala Dunia sudah berulang kali membuktikan kalau drama, kejutan, dan magis sepak bola sering kali bikin prediksi angka-angka di atas kertas jadi gak berarti.