Timnas Australia siap menghadapi Turki dalam laga pembuka Grup D Piala Dunia di Stadion BC Place Vancouver, Kanada, pada Minggu (14/06). Pertandingan pembuka ini menjadi momen penting bagi Socceroos yang membawa komposisi skuad berbeda. OMP Unsyiahpress melaporkan adanya Kisah Inspiratif Trio Socceroos yang menghiasi persiapan tim asuhan Tony Popovic.
Tiga pemain pilar, yakni Mohamed Toure, Nestory Irankunda, dan Awer Mabil, memiliki latar belakang sebagai mantan penghuni kamp pengungsi. Kehadiran mereka menunjukkan perubahan masif dalam struktur sepak bola Australia yang kini lebih beragam. Popovic menaruh harapan besar pada ketajaman para pemain ini untuk mendulang poin penuh.
Socceroos kini diperkuat oleh enam pemain berdarah Afrika dalam kompetisi tertinggi dunia ini. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan edisi kejuaraan sebelumnya di Qatar. Sebagian besar dari talenta baru ini tumbuh dan mengawali karier sepak bola mereka di kota Adelaide.
Ketajaman Lini Depan Baru
Mohamed Toure menjadi salah satu tumpuan utama Popovic di lini serang setelah tampil memikat bersama Norwich City. Penyerang berusia 22 tahun yang lahir di kamp pengungsi Guinea ini telah mengemas sembilan gol dari 11 laga di Inggris. Kisah hidupnya yang bermula dari pelarian konflik Liberia memberikan motivasi tambahan saat mengenakan jersi tim nasional.
Bagi Toure, bermain di turnamen sepak bola terbesar ini merupakan bentuk balas budi kepada negara yang menyelamatkannya. “Ini adalah negara yang memberi kami kesempatan untuk hidup. Jadi saya pikir Piala Dunia adalah cara terbaik untuk membalasnya dan melakukan apa yang saya cintai di level tertinggi,” ujar Toure.
Sementara itu, Nestory Irankunda juga siap memberikan kontribusi maksimal melalui kecepatan dan energinya di sisi sayap. Pemain Watford berusia 20 tahun tersebut lahir di kamp pengungsi Tanzania setelah orang tuanya melarikan diri dari Burundi. Irankunda kini telah mengoleksi 15 penampilan dan menjadi pemain yang digemari oleh para pendukung Australia.
Peran Senior dan Keberagaman Skuad
Awer Mabil bertindak sebagai sosok senior yang siap membimbing para pemain muda di dalam skuad Australia. Pemain berusia 30 tahun yang kini membela Castellon tersebut sempat menghabiskan masa kecilnya di kamp pengungsi Kenya. Mabil kembali mendapatkan kepercayaan dari tim nasional setelah menunjukkan performa mengesankan di kompetisi Spanyol.
Kembalinya Mabil ke skuad Piala Dunia kali ini dirasakan sangat emosional karena perjalanan kariernya yang tidak mudah. “Jelas saya sudah merasakan sedikit pengalaman di Piala Dunia sebelumnya, tetapi yang satu ini terasa lebih spesial karena beberapa tahun terakhir bukan masa yang mudah bagi saya,” kata Mabil.
Selain trio tersebut, Australia juga memiliki Tete Yengi yang melengkapi dominasi pemain lulusan Adelaide United di tim nasional. Yengi baru saja mencetak gol debutnya saat Socceroos menahan imbang Swiss dengan skor 1-1 pada laga uji coba. Keberhasilan para pemain ini dinilai sebagai bukti nyata kekuatan dari sebuah keberagaman budaya.
Harapan dari Kota Adelaide
Pelatih muda asal Adelaide, Deng Akoy, menyatakan bahwa kota tersebut sukses menjadi wadah perkembangan bakat para pemain keturunan. Hubungan erat antara klub lokal dan komunitas imigran Afrika mempermudah proses pencarian bakat sepak bola. Menurutnya, pencapaian para pemain ini melampaui sekadar urusan olahraga di lapangan hijau.
Akoy menegaskan bahwa keberadaan para pemain ini menjadi representasi positif dari perkembangan sosial masyarakat Australia modern saat ini. “Karena itulah kami terus menghasilkan permata-permata tersembunyi,” ujar Akoy. Ia menambahkan, “Sepak bola Australia mencerminkan Australia modern. Itu adalah sesuatu yang seharusnya kita rayakan bersama.”
Berikut adalah profil singkat tiga pemain utama yang memiliki latar belakang dari kamp pengungsi di dalam skuad Australia:
- Mohamed Toure: Penyerang Norwich City berusia 22 tahun yang lahir di kamp pengungsi Guinea.
- Nestory Irankunda: Pemain sayap Watford berusia 20 tahun yang lahir di kamp pengungsi Tanzania.
- Awer Mabil: Gelandang sayap Castellon berusia 30 tahun yang menghabiskan masa kecil di kamp pengungsi Kenya.